Senin, 24 Januari 2011

PENGARUH CURAH HUJAN DAN TEMPERATUR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT TANAMAN


Makalah
PENGARUH CURAH HUJAN DAN TEMPERATUR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT TANAMAN

DI SUSUN

Oleh:

KELOMPOK I
TASLIMA
ANGGUN FITRIANA
YULIANA AS
ANDRIANSYAH
FERI AFRIADI


KELAS ; II
AGROTEKNOLOGI



001



AGROKLIMATOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2010

PENDAHULUAN
Tanaman yang merupakan tumbuhan yang diusahakan dan diambil manfaatnya, dapat ditinjau dari dua sudut (pandangan) :
1.      Sudut BIOLOGI yang berarti organisme yang melakukan kegiatan fisiologis seperti tumbuh, berpihak dan lain-lain.
2.      Sudut EKONOMI yang berarti penghasil bahan yang berguna bagi manusia seperti buah, biji, bunga, daun, batang dan lain-lain.
Sedang penyakit sendiri sebenarnya berarti proses di mana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Patogen atau penyebab penyakit dapat berupa organisme, yang tergolong dalam dunia tumbuhan, dan bukan organisme yang biasa disebut fisiophat. Sedangkan organisme dapat dibedakan menjadi : parasit dan saprofit.
Sumber inokulum atau sumber penular adalah tempat dari mana inokulum atau penular itu berasal dan sesuai dengan urutan penularannya dibedakan menjadi sumber penular primer, sumber penular sekunder, sumber penular tertier dan seterusnya.
Selama perkembangan penyakit dapat kita kenal beberapa peristiwa yaitu :
1.      Inokulasi adalah jatuhnya inokulum pada tanaman inangnya.
2.      Penetrasi dalah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman inangnya.
3.      Infeksi adalah interaksi antara patogen dengan tanaman inangnya.
4.      Invasi adalah perkembangan patogen di dalam jaringan tanaman inang.








PENGARUH CURAH HUJAN DAN TEMPERATUR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT TANAMAN


Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, kepribadian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya.
Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen.
Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen.
Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit.
Perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen. Setiap tahap dari siklus hidup patogen, dipengaruhi oleh suhu, dari tunas spora, hingga memasuki masa pertumbuhan induknya menjadi hingga sporulasi baru dan perpindahan spora.
Terdapat temperatur minimum, maksimum, dan optimum yang berbeda untuk tiap patogen yang berbeda dan bahkan untuk proses pada beberapa patogennya. Verticillium dahliae paling aktif menyebabkan kelayuan pada suhu antara 25-280C, tetapi Verticillium albo-atrum akan mendominasi pada suhu 20-250C. Karat dini pada tomat dipicu oleh suhu yang hangat dan sebaliknya.
Bakteri penyebab penyakit kresek pada padi Xanthomonas oryzae pv. oryzae mempunyai suhu optimum pada 30º C. Sementara F. oxysporum pada bawang merah mempunyai suhu pertumbuhan optimum 28-30 º C. Bakteri kresek penularan utamanya adalah melalui percikan air sehingga hujan yang disertai angin akan memperberat serangan. Pada temperatur yang lebih hangat periode inkubasi penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum ) lebih cepat di banding suhu rendah. Sebaliknya penyakit hawar daun pada kentang yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans lebih berat bila cuaca sejuk (18-22 º C) dan lembab.
Faktor-faktor iklim juga berpengaruh terhadap ketahanan tanaman inang. Tanaman vanili yang stres karena terlalu banyak cahaya akan rentan terhadap penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Fusarium. Ekspresi gejala beberapa penyakit karena virus tergantung dari suhu.
Tumbuhan umumnya tumbuh pada kisaran suhu 1-40oC, kebanyakan jenis tumbuhan tumbuh sangat baik antara 15 dan 30oC. Selama suhu rendah atau tinggi maka pengaruh suhu minimum dan maksimum, dimana tumbuhan masih dapat menghasilkan pertumbuhan normal, sangat bervariasi dengan spesies tumbuhan dan dengan tingkat pertumbuhan tumbuhan.
Suhu merupakan factor fisik yang sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan penyakit tanaman. Suhu dapat mempengaruhi kondisi optimal dari pertumbuhan pathogen maupun tanaman inang, sehingga sering sekali terjadi perbedaan tingkat keparahan penyakit di satu tempat dengan tempat lain. Suhu yang tidak ideal untuk tanaman dalam kondisi stress dan mempunyai tingkat ketahanan yang rentan terhadap infeksi pathogen. Akibat suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kekeringan atau kelayuan pada tanaman, sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan late frost terhadap titik meristematis muda atau keseluruhan bagian tumbuhan.
Salah satu factor iklim yang berpengaruh terhadap hama dan penyakit  adalah curah hujan yang tinggi yang menyebabkan banjir, beberapa hama/pathogen ditularkan aliran air. Contohnya hama padi yaitu keong emas, dipersawahan  Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tahun 2008. Sebelumnya tidak ada hama keong emas di daerahnya. Namun setelah banjir besar tahun 2007, tiba-tiba menjadi banyak dan merusak tanaman padi muda.
Air bebas sangat besar peranannya dalam perkembangan penyakit. Pada penyakit-penyakit tertentu seperti kanker kina yang disebabkan oleh Phytopthora cinnamomi atau penyakit lanas tembakau (Phytopthora nicotiane) dapat tersebar luas terbawa air hujan. Selain itu air gutasi juga dapat membantu timbulnya penyakit seperti yang terjadi pada Xanthomonas campestris yang menyerang kol dengan mengadakan infeksi melalui hidatoda (pori air) karena terbawa ke dalam air gutasi. Sedang pada Xanthomonas campestris var. eryzicola pada padi adanya air bebas saja tidak cukup untuk mengadakan infeksi dan membutuhkan faktor lain.
Terdapatnya beberapa penyakit tanaman di wilayah tertentu erat kaitannya dengan jumlah dan distribusi curah hujan selama setahun. Jadi, hawar daun kentang, kudis apel, embun bulu anggur, dan hawar api hanya terdapat atau berada dalam keadaan parah di daerah-daerah yang pada musim pertanaman bercurah hujan atau berkelembaban nisbi tinggi. Kenyataannya, pada semua penyakit tersebut atau pada penyakit lain, curah hujan menentukan bukan hanya berat ringannya penyakit, tetapi juga menentukan apakah penyakit tersebut akan muncul atau tidak di musim itu. Dalam hal penyakit yang disebabkan oleh cendawan, pengaruh kelembaban terjadi pada perkecambahan spora yang memerlukan film air pada jaringan agar dapat berkecambah.
Selain itu juga berpengaruh terhadap pelepasan spora dari sporofor seperti yang terjadi pada kudis apel, yang sporanya hanya dapat terlepas bila keadaan lembab. Jumlah siklus penyakit tiap musim erat kaitannya dengan jumlah curah hujan dalam musim tersebut, terutama curah hujan yang cukup lama sehingga cukup untuk memantapkan infeksi. Jadi, seperti pada kudis apel, diperlukan pembasahan sekurang-kurangnya sembilan jam secara terus menerus pada daun, buah dan lain-lainnya agar terjadi infeksi, meskipun suhu dalam keadaan optimum (18-23°C) bagi patogen. Apalagi bila suhunya lebih rendah atau lebih tinggi, waktu minimum pembasahan yang diperlukan adalah 14 jam pada suhu 10°C, 28 jam pada 6°C dan seterusnya. Bila masa pembasahan kurang dari waktu minimum yang diperlukan pada suhu tertentu, maka patogen tidak akan mampu untuk memantapkan diri di dalam inang dan menimbulkan penyakit.
            Untuk menghadapi perubahan iklim dalam kaitannya dengan perkembangan hama dan penyakit tanaman, diperlukan beberapa langkah:
1.      Melakukan kajian koperehensif dampak curah hujan dan temperature terhadap hama dan penyakit tanaman.
2.      Mengembangkan teknik budidaya yang sesuai seperti pengaturan jarak tanam dan penggunaan varietas local.
3.      Penanganan yang lebih ramah lingkungan dalam pengendalian hama dan penyakit.
4.      Peningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan menyikapi perubahan.







KESIMPULAN
1.      Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung.
2.      Terdapat temperatur minimum, maksimum, dan optimum yang berbeda untuk tiap patogen yang berbeda dan bahkan untuk proses pada beberapa patogennya.
3.      Hawar daun kentang, kudis apel, embun bulu anggur, dan hawar api hanya terdapat atau berada dalam keadaan parah di daerah-daerah yang pada musim pertanaman bercurah hujan atau berkelembaban nisbi tinggi.
4.      Curah hujan menentukan bukan hanya berat ringannya penyakit, tetapi juga menentukan apakah penyakit tersebut akan muncul atau tidak di musim itu.
5.      Yang terpenting adalah meningkatan pemahaman agroekosistem oleh petani sehingga lebih jeli mengamati dan menyikapi perubahan.











DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Hutan. http://id.wikipedia.org/hutan. Diakses pada 10 mei 2010.

Muawin, Heru A. 2009. Hubungan Suhu Bagi Pertumbuhan Tanaman. http://herumuawin.blogspot.com/2009/03/ hubungan-suhu-bagi-pertumbuhan-tanaman/. Diakses pada 26 maret 2009.

Tim MGMP. 2008. Lingkungan Kehidupan di Muka Bumi. http://mgmpgeok.blogspot.com/2008/10/lingkungan-kehidupan-di-muka-bumi.html. Diakses pada 23 maret 2009.

Wiyono, Suryo. 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman. IPB, Bogor. (http://www.google.co.id. Diakses pada 23 maret 2009.)


    



Sabtu, 22 Januari 2011

BAHAN INDUK TANAH

Tanah yang kita tempati dan kita pergunakan untuk berbagai usaha guna memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, terwujudnya adalah melalui berbagai proses dan tahapan-tahapan yang panjang dan berjuta-juta tahun umurnya. Hal ini perlu dikemukakan terlebih dahulu mengingat kini tidak sedikit manusia yang menelantarkan tanah, merusak keadaan tanah dengan berbagai perlakuan yang keliru dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Manusia-manusia demikian seakan-akan menilak atau menentang kemurahan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menciptakan tanah bagi kepentingan manusia.
Tentang terjadinya bahan induk tanah ini MOHR dan VAN BAREN (1954) dalam “Tropical Soils” telah memberikan gambaran ilmiah tentang terjadinya bumi kita dan batu-batuan yang menjadi bahan baku/ induk tanah, yang intisarnya sebagai berikut:
·         Kejadian bumi berpangkal pada kegiatan matahari ±3.000.000.000 tahun yang lalu, yang telah melepaskan gumpalan materi yang berbentuk gas ke ruang angkasa, materi tersebut bersuhu sangat tinggi.
>     Suhu yang demikian tinggi dalam gumpalan materi yang telah terlepas itu karena beberapa pengaruh, lambat laun menurun sedangkan bagian luar dari gumpalan materi mengalami pembekuan merupakan benda yang berbentuk lunak atau cairan kental yang pada akhirnya berbentuk kerak atau lapisan kulit dengan sifat yang padat. Dengan demikian mulai terbentuklah suatu tubuh yang sekelilingnya diliputi kerak yang bersifat padat.
>     Karena bagian dalam dari tubuh itu keadaanya masih tetap lunak/cair dan panas serta aktif mengadakan gerakan-gerakan, kerak atau lapisan kulit yang mengelilingi tubuh itupun mengalami perubahan-perubahan. Ada yang menonjol dan ada pula yang turun. Dalam keadaan demikian berlangsungnya proses pembekuan dan pengerasan di bagian dalam dari tubuh itu berjalan terus hingga sekarang.
>     Perubahan-perubahan seperti di atas selain mengakibatkan menonjolnya atau menurunnya bagian-bagian dari lapisan kulit tubuh yang padat itu, juga menimbulkan lipatan-lipatan yang beruntun sehingga bagian-bagian yang tadinya berada di bawah berubah ada di atas. Karena gerakan-gerakan di bagian dalam tubuh berlangsung terus, tubuh itupun berputar secara perlahan-lahan, dan dengan bertambah mengerasnya lapisan kerak serta menurunnya suhu maka tubuh itu mempunyai bentuk yang lebih nyata yaitu mirip sebuah bola besar, yang kita namakan “Bumi”.
>     Kerak bumi keadaannya makin padat dan tebal, sedang bahan-bahan di bagian dalam tubuh bumi tetap lunak/cair dan panas yang kadang-kadang berikhtiar menyelinap keluar melalui celah-celah yang terdapat pada lapisan kerak dalam keadaan cair dan tetap panas, bahan-bahan tersebut dinamakan: magma. Bentuk batuan Kristal banyak terjadi di bawah kerak bumi, sedangkan magma yang sudah keluar dari perut bumi dikarenakan pengaruh-pengaruh hawa ataupun unsure-unsur iklim lainnya akan mengeras dan membeku dan terbentuklah batu yang amorf ( tidak berkristal).
>     Batu-batuan Kristal tersebut di atas lazim disebut batu induk yang karena adanya gerakan-gerakan tektonis mengalami perubahan tempat dan berada di atas lapisan kerak bumi. Batu-batu ini ternyata mempunyai susunan kimiawi sehingga daripadanya kini dikenal adanya batu-batu andesit, basalt, granit dan lain-lain. Batu-batuan inilah yang selanjutnya karena mengalami fase-fase hancuran iklim fisik dan hancuran iklim kimia akan membentuk tanah.
Jadi batu-batuan yang telah dikemukakan itu merupakan bahan baku terwujudnya tanah.

Menurut Jenny (1941). Bahan Induk adalah keadaan tanah pada waktu nol (time zero) dari proses pembentukan tanah.

Jenis-jenis Bahan Induk:
1.      Batuan Beku
2.      Batuan Sedimen
3.      Batuan Metamorf
4.      Bahan Induk Organik


Batuan Beku
Adalah bebatuan yang terbentuk dari proses pembekuan (solidifikasi) magma cair.

Batuan Sedimen
Adalah bebatuan yang terbentuk dari proses pemadatan (konsolidasi) endapan-endapan partikel yang terbawa oleh angin atau air di permukaan bumi.

Batuan Metamorf
Adalah batuan beku atau batuan sedimen yang telah mengalami perubahan bentuk (transformasi) akibat adanya pengaruh perubahan suhu dan tekanan yang sangat tinggi.

Jenis-jenis Batuan Beku
·         Berdasarkan Tempat Pembekuan Magma, batuan beku dibedakan menjadi :
1. Batuan Beku Dalam (Flutonik)
2. Batuan Beku Gang (Intrusi)
3. Batuan Beku Atas (Ekstrusi / Batuan Vulkanik)
·         Berdasarkan kandungan SiO2, batuan beku dibedakan menjadi:
1. Batuan Beku Masam -> kand. SiO2 tinggi : > 65%
2. Batuan Beku Intermedier -> kand. SiO2 sedang : + 55% s/d 65%
3. Batuan Beku Basa -> kand. SiO2 rendah : < 55%

Jenis-jenis Batuan Sedimen
1.      Batuan Kapur dan Dolomit, kandungan Ca, Mg > 50%
2.      Batupasir, kandungan Pasir > 50%
3.      Shale (Serpih), Clayshale/Claystone (kand. Liatnya banyak), Siltstone (kandungan Debunya banyak).

Jenis-jenis Batuan Metamorf:
1.      Schist
Batuan metamorf berbentuk lembar-lembar halusnya Schist Mika
2.      Gneis
Batuan metamorf berbentuk lembar-lembar kasarnya Granit Gneis
3.      Kuarsit
Batuan metamorf yang terbentuk dari batu pasir
4.      Marmer
Batuan metamorf yang terbentuk dari batu kapur karbonat

Bahan Induk Organik :
·         Bahan Induk yang berasal dari proses akumulasi penimbunan hutan rawa / vegetasi rawa.
·         Tanah yang terbentuk disebut: Tanah Organik, Tanah Gambut, Histosol

PENGARUH CURAH HUJAN DAN TEMPERATUR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT TANAMAN

PENDAHULUAN
Tanaman yang merupakan tumbuhan yang diusahakan dan diambil manfaatnya, dapat ditinjau dari dua sudut (pandangan) :
1.      Sudut BIOLOGI yang berarti organisme yang melakukan kegiatan fisiologis seperti tumbuh, berpihak dan lain-lain.
2.      Sudut EKONOMI yang berarti penghasil bahan yang berguna bagi manusia seperti buah, biji, bunga, daun, batang dan lain-lain.
Sedang penyakit sendiri sebenarnya berarti proses di mana bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya. Patogen atau penyebab penyakit dapat berupa organisme, yang tergolong dalam dunia tumbuhan, dan bukan organisme yang biasa disebut fisiophat. Sedangkan organisme dapat dibedakan menjadi : parasit dan saprofit.
Sumber inokulum atau sumber penular adalah tempat dari mana inokulum atau penular itu berasal dan sesuai dengan urutan penularannya dibedakan menjadi sumber penular primer, sumber penular sekunder, sumber penular tertier dan seterusnya.
Selama perkembangan penyakit dapat kita kenal beberapa peristiwa yaitu :
1.      Inokulasi adalah jatuhnya inokulum pada tanaman inangnya.
2.      Penetrasi dalah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman inangnya.
3.      Infeksi adalah interaksi antara patogen dengan tanaman inangnya.
4.      Invasi adalah perkembangan patogen di dalam jaringan tanaman inang.









PENGARUH CURAH HUJAN DAN TEMPERATUR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT TANAMAN


Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor factor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, kepribadian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya.
Pengaruh tidak langsung adalah pengaruh faktor iklim terhadap vigor dan fisiologi tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap hama. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, falvonoid yang berpengaruh terhadap ketahannannya terhadap hama. Pengaruh tidak langsungnya adalah kaitannya dengan musuh alami hama baik predator, parasitoid dan patogen.
Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen.
Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit.
Perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen. Setiap tahap dari siklus hidup patogen, dipengaruhi oleh suhu, dari tunas spora, hingga memasuki masa pertumbuhan induknya menjadi hingga sporulasi baru dan perpindahan spora.
Terdapat temperatur minimum, maksimum, dan optimum yang berbeda untuk tiap patogen yang berbeda dan bahkan untuk proses pada beberapa patogennya. Verticillium dahliae paling aktif menyebabkan kelayuan pada suhu antara 25-280C, tetapi Verticillium albo-atrum akan mendominasi pada suhu 20-250C. Karat dini pada tomat dipicu oleh suhu yang hangat dan sebaliknya.
Bakteri penyebab penyakit kresek pada padi Xanthomonas oryzae pv. oryzae mempunyai suhu optimum pada 30º C. Sementara F. oxysporum pada bawang merah mempunyai suhu pertumbuhan optimum 28-30 º C. Bakteri kresek penularan utamanya adalah melalui percikan air sehingga hujan yang disertai angin akan memperberat serangan. Pada temperatur yang lebih hangat periode inkubasi penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum ) lebih cepat di banding suhu rendah. Sebaliknya penyakit hawar daun pada kentang yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans lebih berat bila cuaca sejuk (18-22 º C) dan lembab.
Faktor-faktor iklim juga berpengaruh terhadap ketahanan tanaman inang. Tanaman vanili yang stres karena terlalu banyak cahaya akan rentan terhadap penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Fusarium. Ekspresi gejala beberapa penyakit karena virus tergantung dari suhu.
Tumbuhan umumnya tumbuh pada kisaran suhu 1-40oC, kebanyakan jenis tumbuhan tumbuh sangat baik antara 15 dan 30oC. Selama suhu rendah atau tinggi maka pengaruh suhu minimum dan maksimum, dimana tumbuhan masih dapat menghasilkan pertumbuhan normal, sangat bervariasi dengan spesies tumbuhan dan dengan tingkat pertumbuhan tumbuhan.
Suhu merupakan factor fisik yang sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan penyakit tanaman. Suhu dapat mempengaruhi kondisi optimal dari pertumbuhan pathogen maupun tanaman inang, sehingga sering sekali terjadi perbedaan tingkat keparahan penyakit di satu tempat dengan tempat lain. Suhu yang tidak ideal untuk tanaman dalam kondisi stress dan mempunyai tingkat ketahanan yang rentan terhadap infeksi pathogen. Akibat suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kekeringan atau kelayuan pada tanaman, sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan late frost terhadap titik meristematis muda atau keseluruhan bagian tumbuhan.
Salah satu factor iklim yang berpengaruh terhadap hama dan penyakit  adalah curah hujan yang tinggi yang menyebabkan banjir, beberapa hama/pathogen ditularkan aliran air. Contohnya hama padi yaitu keong emas, dipersawahan  Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tahun 2008. Sebelumnya tidak ada hama keong emas di daerahnya. Namun setelah banjir besar tahun 2007, tiba-tiba menjadi banyak dan merusak tanaman padi muda.

Smash - I Heart You

[intro] A D Bm E

A
Kenapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu
D
Selalu peluh pun menetes setiap dekat kamu
Bm
Kenapa salah tingkah tiap kau tatap aku
E
Selalu diriku malu tiap kau puji aku


A
Kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku
D
Selalu merinding romaku tiap kau sentuh aku
Bm
Mengapa otakku beku tiap memikirkanmu
E A
Selalu tubuhku lunglai tiap kau bisikkan cinta


[chorus]
D
You know me so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you
A
Girl i heart you
D
I know you so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you girl i heart you


A
Tahukah kamu saat kita pertama jumpa
D
Hatiku berkata padamu ada yang berbeda
Bm
Tahukah sejak kita sering jalan bersama
E
Tiap jam menit detikku hanya ingin berdua


A
Tahukah kamu ku takkan pernah lupa
D
Saat kau bilang kau punya rasa yang sama
Bm
Ku tak menyangka aku bahagia ingin ku peluk dunia
E A
Kau izinkan aku tuk dapat rasakan cinta


[chorus]
D
You know me so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you
A
Girl i heart you
D
I know you so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you girl i heart you


A
Hatiku rasakan cinta, dia buatku salah tingkah
D
I know you so well, you know me so well
You heart me girl, i heart you back
Bm
I miss you, i love you, ah ah ah
E
I need you, i love you, i heart you baby


A D Bm
E A
I need you, i love you, i heart you baby


[chorus]
D
You know me so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you
A
Girl i heart you
D
I know you so well
Bm
Girl i need you
E
Girl i love you girl i heart you


A D
Tak ada yang bisa memisahkan cinta
Bm
Waktu pun takkan tega
E A
Kau dan aku bersama selamanya